Asam basa

1.Larutan
Larutan didefinisikan sebagai suatu
campuran homogen terdiri atas dua macam
atau lebih zat tunggal dengan bermacam-macam perbandingan komposisi,tidak
memiliki bidang batas antara komponen-komponennya, dan mempunyai sifat yang
sama diseluruh bagiannya.
Berdasarkan sifat keasamannya larutan
dibedakan menjadi 3 golongan yaitu sifat asam,basa dan netral. Ketiga sifat
tersebut dapat diketahui melalui pengujian dengan beberapa metode yang telah
dikembangkan hingga saat ini. Salah satu asam yang sangat korosif terhadap
benda-benda disekitarnya dan akan mengkibatkan luka bakar yang serius jika
terkena kulit adalah asam sulfat H2SO4.
Uji keasaman larutan dapat dilakukan
dengan menggunakan alat yang disebut indikator. Indikator asam basa dapat
dijumpai dalam berbagai macam
bentuk,salah satunya berupa zat warna yang mampu menunjukkan perbedaan warna
dalam larutan asam maupun basa.
Sifat asam basa juga dapat diukur alat
ukur yang disebut dengan pH meter. Tingkat keasaman larutan dapat ditunjukkan
melalui skala dalam pH meter. Larutan asam mempunyai pH<7, larutan basa
mempunyai pH>7, sedangkan netral mempunyai pH=7. Pengukuran pH dengan skala
tertentu juga dapat menggunakan indikator pH universal.


2. Perkembangan pengetahuan tentang asam
dan basa terus berkembang hingga saat ini
v 1777
Pada mulanya seorang ilmuwan bernama
Antoine Laurant Lavoisier pada tahun 1777 mengemukakan bahwa asam
mengandung unsur oksigen, dan unsur itu
yang bertanggung jawab atas sifat-sifat asam
v 1810
Namun pada tahun 1810 Sir Humphry Davy
menemukan untuk asam klorida, HCl tidaklah mengandung unsur oksigen,melainkan
hidrogen. Kemudian disimpulkan olehnya bahwa hidrogenlah yang ditimbulkan oleh
asam dan bukan oksigen.
v 1814
Kemudian pada tahun 1814, Joseph Louis
Gey Lussac menyimpulkan bahwa asam adalah zat
yang dapat menetralkan alkali.
v 1884
Selanjutnya, perkembangan ilmu tentang
asam dan basa terus berlanjut hingga pada tahun 1884, seorang bernama Arrhenius
dapat menyimpulkan konsep tentang asam basa yang dapat diterima hingga pada
saat ini.
Ilmuwan-ilmuwan yang ikut mengembangkan
konsep asam basa adalah Johaness Bronsted, thomas lowry, dan Gilbert Newton
Lewis.


3.Teori Asam basa menurut Arrhenius
Berdasarkan penemuannya asam adalah zat yang dilrutkan dalam air akan menghasilkan
ion H+. Sedangkan basa adalah zat yang dilarutkan dalam air akan
menghasilkan ion OH-. Dengan kata lain, ion H+ adalah
pembawa sifat asam. Mengenai asam dapat dirumuskan dalam persamaan reaksi
berikut ini:
HxZ(aq)->
xH+(aq)+Zx-(aq)
Dari persamaan reaksi tersebut terlihat
bahwa zat asam akan terionisasi menghasilkan ion H+. Jumlah H+
yang dihasilkan oleh satu molekul asam adalah valensi asam,sedangkan ion
negatif yang dihasilkan setelah H+ terbentuk adalah ion sisa asam. Asam hanya
menghasilkan 1 ion H+ ,
valensi asamnya =1 dan disebut dengan asam monoprotik, contohnya HCl,CH3COOH,HNO3
dan sebagainya. Untuk asam poliprotik,dengan valensi ion mengikuti jumlah H+
yang dihasilkan.
4.Kekuatan asam dan Basa
Asam dan basa yang terionisasi membentuk
H+ dan OH- merupakan reaksi kesetimbangan. Sifat keasaman suatu zat memiliki
kekuatan yang berbeda-beda, dan kekuatannya dinyatakan dalam bentuk tetapan
kesetimbangan. Untuk yang bersifat asam,kekuatan asamnya dinyatakan dalam
tetapan ionisasi asam (Ka), sedangkan untuk basa dinyatakan dalam tetapan
kesetimbangan basa (Kb). Kekuatan asam basa suatu zat, ditentukan melalui
banyak sedikitnya ion H+ dan OH- yang dilepaskan dan nilai derajat
ionisasi/disosiasi α
Ø Tetapan
ionisasi asam
Persamaan umum reaksi kesetimbangan asam:
HA(aq)->H+(aq)+A-(aq)
Tetapan ionisasi Asam
Ka=[H+] [A-] / [HA]
Ø Tetapan
Ionisasi basa
Reaksi kesetimbangan :
B(aq) + H2O(l)->BH+(aq) + OH-(aq)
Tetapan ionisasi Basa
Kb=[BH+] [OH-] / [B]